Media Network
Lappung Media Network
  • Lappung
  • Lappung Balam
  • Lappung Bandar Jaya
  • Lappung Baradatu
  • Lappung Investigasi
  • Lappung Kalianda
  • Lappung Kotabumi
  • Lappung Literasi
  • Lappung Metro
  • Lappung Mahkamah
  • Lappung Menggala
  • Lappung Pekon
  • Lappung Pesawaran
  • Lappung Pringsewu
  • Lappung Politik
  • Lappung Tanggamus
  • Lihat Semua Media Network →
    • Artikel
    • Komunitas
    • Opini
    • Tips dan Trik Belajar
    No Result
    View All Result
    • Artikel
    • Komunitas
    • Opini
    • Tips dan Trik Belajar
    No Result
    View All Result
    No Result
    View All Result
    • Artikel
    • Komunitas
    • Opini
    • Tips dan Trik Belajar

    Home » Literasi yang Memerdekakan » Halaman 3

    Literasi yang Memerdekakan

    by Editor
    22/11/2021
    in Opini
    Literasi.lappung.com

    Sylvie Tanaga adalah Penulis dan Penyunting lepas, saat ini tinggal di Kota Bandung. Sumber Foto Twitter @Sylvietanaga

    Share on FacebookShare on Twitter

    Buku dan kehidupan literasi jadi urusan nomor sekian yang sama sekali tak terasa genting, segenting perut yang berteriak nyaring minta diisi. Ironisnya, sejumlah anggota dewan terhormat dan tokoh publik justru menyalahgunakan kemerdekaan yang mereka miliki untuk sekali lagi merebut kemerdekaan saudaranya sendiri, sembari leluasa menenar dusta penuh sensasi demi menangguk pundi sebesar-besarnya.
    Tak ada cara lain untuk merebut kembali kemerdekaan kecuali melalui literasi.

    Di tengah segala tekanan, denyut literasi yang masih terus dipertahankan segenap tenaga oleh rekan-rekan pegiat literasi lokal membawa secercah harapan. Meski kamera lebih suka menyorot si pendusta dan kroni-kroninya, para pegiat literasi tak putus asa menempuh jalan sunyi memperjuangkan kemerdekaan jiwa dan pikiran warganya meski tahu hasilnya tak bisa dipetik dalam jangka pendek.

    Komunitas Lakoat Kujawas di Timor Tengah Selatan yang digagas oleh Dicky Senda, misalnya, membuktikan bagaimana literasi bukan pepesan kosong untuk menghibur jiwa-jiwa yang sepi. Perpustakaan yang mereka dirikan bukanlah ruang mati berisi tumpukan buku tapi sungguh “hidup” dengan aneka aktivitas di dalamnya.

    Anak-anak bukan obyek yang dipaksa membaca. Mereka bersukacita terlibat dalam kegiatan berliterasi. Mereka mendengarkan dongeng-dongeng tetua yang arif dalam memandang diri dan lingkungannya, lalu menulis cerpen, dongeng, dan puisi. Generasi muda Mollo bukan hanya bangga terhadap identitasnya namun juga berusaha sekuat tenaga melindungi kebebasan yang mereka miliki sebagai warga adat.

    Page 3 of 5
    Prev12345Next
    Via: Sylvie Tanaga
    Tags: OpiniSylvie Tanaga
    ShareTweetSendShare
    Previous Post

    Literasi Kontekstual Yang Memerdekakan

    Next Post

    Pesta Sosial HMJ EKBIS Polinela Bersama KRBL

    Related Posts

    Opini

    Pendidikan di Masa Pandemi

    05/12/2021
    Opini

    Digitalisasi UMKM Kunci Pemulihan Ekonomi Nasional

    04/12/2021
    Opini

    Literasi Kontekstual Yang Memerdekakan

    21/11/2021
    Load More

    Populer Minggu Ini

      • Term Of Service
      • Redaksi
      • Pedoman Siber
      • Tentang Kami
      • kebijakan privasi
      • Disclaimer

      © 2022 Literasi Lappung.com All Right Reserved

      No Result
      View All Result
      • Artikel
      • Komunitas
      • Opini
      • Tips dan Trik Belajar
      Lappung Media Network
    • Lappung
    • Lappung Balam
    • Lappung Bandar Jaya
    • Lappung Baradatu
    • Lappung Investigasi
    • Lappung Kalianda
    • Lappung Kotabumi
    • Lappung Literasi
    • Lappung Metro
    • Lappung Mahkamah
    • Lappung Menggala
    • Lappung Pekon
    • Lappung Pesawaran
    • Lappung Pringsewu
    • Lappung Politik
    • Lappung Tanggamus
    • Lihat Semua Media Network →

      © 2022 Literasi Lappung.com All Right Reserved

      Exit mobile version