Buku dan kehidupan literasi jadi urusan nomor sekian yang sama sekali tak terasa genting, segenting perut yang berteriak nyaring minta diisi. Ironisnya, sejumlah anggota dewan terhormat dan tokoh publik justru menyalahgunakan kemerdekaan yang mereka miliki untuk sekali lagi merebut kemerdekaan saudaranya sendiri, sembari leluasa menenar dusta penuh sensasi demi menangguk pundi sebesar-besarnya.
Tak ada cara lain untuk merebut kembali kemerdekaan kecuali melalui literasi.
Di tengah segala tekanan, denyut literasi yang masih terus dipertahankan segenap tenaga oleh rekan-rekan pegiat literasi lokal membawa secercah harapan. Meski kamera lebih suka menyorot si pendusta dan kroni-kroninya, para pegiat literasi tak putus asa menempuh jalan sunyi memperjuangkan kemerdekaan jiwa dan pikiran warganya meski tahu hasilnya tak bisa dipetik dalam jangka pendek.
Komunitas Lakoat Kujawas di Timor Tengah Selatan yang digagas oleh Dicky Senda, misalnya, membuktikan bagaimana literasi bukan pepesan kosong untuk menghibur jiwa-jiwa yang sepi. Perpustakaan yang mereka dirikan bukanlah ruang mati berisi tumpukan buku tapi sungguh “hidup” dengan aneka aktivitas di dalamnya.
Anak-anak bukan obyek yang dipaksa membaca. Mereka bersukacita terlibat dalam kegiatan berliterasi. Mereka mendengarkan dongeng-dongeng tetua yang arif dalam memandang diri dan lingkungannya, lalu menulis cerpen, dongeng, dan puisi. Generasi muda Mollo bukan hanya bangga terhadap identitasnya namun juga berusaha sekuat tenaga melindungi kebebasan yang mereka miliki sebagai warga adat.
