Aktivitas literasi untuk mendokumentasikan sajian lokal juga berkontribusi melahirkan aneka kreasi pangan yang memberi pemasukan finansial untuk warga. Pun demikian halnya dokumentasi sejarah dan budaya yang memampukan warga Mollo menjadi penyedia jasa wisata minat khusus yang kompeten dan tak sekadar berorientasi uang.
Jika sebuah komunitas literasi lokal saja mampu menunjukkan hasil yang luar biasa menggembirakan dan memerdekakan warganya dari ketergantungan, bayangkan apa yang bisa dilakukan puluhan lamban baca yang tersebar di seantero Lampung Barat.
Bayangkan jika denyut literasi di Lampung Barat bisa berjalan seiring identitas lokal. Literasi kopi, misalnya, jika terus dikembangkan dengan konsisten dan terencana akan sangat berpotensi melestarikan budaya lokal sekaligus menghidupi para petani kopi. Story-story bersejarah bukanlah label yang bisa ditempel paksa demi menggenjot angka penjualan melainkan identitas khas bernilai tinggi yang tak bisa ditiru begitu saja.
Anak-anak juga bisa didorong untuk memahami potensi kopi dengan memperkenalkan mereka pada buku atau dongeng tentang kopi Lampung Barat. Mereka juga bisa diajak berkolaborasi menyusun cerpen, puisi, ilustrasi atau foto-foto bertema kopi, bahkan berkreasi dengan biji atau ampas kopi. Siapa tahu akan lahir karya-karya inovatif yang melestarikan budaya Lampung Barat sekaligus memberi nilai tambah ekonomi.
