Literasi – Data UNESCO menyebutkan, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001 persen. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Salah satu faktor rendahnya minat baca adalah fasilitas.
Himpunan Mahasiswa Prodi Ilmu Perpustakaan (HMPIP) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning, Riau, yang dikomandoi oleh kak Ledi Puspa ketua umum bersama Tim menempuh perjalanan dengan berjalanan kaki selama kurang lebih 3 jam untuk bisa sampai ke SD Swadaya Kampung 40 Buntan Besar, Kabupaten Siak, Provinsi Riau dikarenakan akses jalan yang tidak memungkinkan dimasukin oleh kendaraan umum biasanya.
Program Pekanbaru Membaca merupakan program tahunan HMPIP dan pada tahun ini tepat ke 6 kalinya HMPIP menjalankan program yang biasanya di sebut dengan Pekanbaru Membaca Jilid VI.
Ada yang berbeda ditahun ini, HMPIP mengangkat tema “Literasi Penuh Aksi” dan memilih terjun langsung ke masyarakat pedalaman yang masih kurang diperhatikan oleh pemerintah setempat.
Adanya persoalan sengketa tanah yang mejadikan masyarakat disana khususnya siswa/siswi SD Swadaya Kampung 40 Buantan Besar, kecamatan Siak harus menerima pendidikan yang kurang dari pemerintah.
Siswa/siswi sangat antusias mengikuti kegiatan yang di agendakan oleh HMPIP yang dilaksanakan walaupun dengan kondisi sekolah yang dibangun dengan papan dan bertapakkan tanah tidak mengurangi semangat mereka menerima pelajaran yang diberikan oleh kakak kakak mahasiswa.
“Literasi itu hak asasi manusia, bukan kemewahan kaum cendekia, semua orang harus bisa mendapatkannya. (Anonym)”.
Seperti yang di kutip dari kalimat ini, harapannya pemerintah lebih memperhatikan lagi masyarakat di Kampung 40, terutama untuk pendidikan agar bisa mencapai sila 5 yaitu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Salam Literasi
Literasi Penuh Aksi
(Pekanbaru, Selasa 19 Oktober 2021)




Lappung Media Network